
Samarinda – Anggota DPRD Kota Samarinda, Dr. Sani Bin Husain, mengingatkan pentingnya kepekaan sosial dalam menyambut pergantian tahun. Ia menilai perayaan tahun baru yang dilakukan secara berlebihan, khususnya dengan pembakaran kembang api, menjadi kurang etis ketika sebagian wilayah di Sumatera tengah dilanda bencana dan ribuan warga terdampak masih berjuang menghadapi situasi darurat.
Menurut Dr. Sani, momentum tahun baru seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang euforia, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan solidaritas kemanusiaan. Di tengah kabar duka dan penderitaan yang dialami saudara sebangsa, perayaan yang mencolok dinilai dapat melukai rasa empati dan kepedulian sosial.
“Ketika saudara-saudara kita sedang tertimpa musibah, rasanya kurang pantas jika kita merayakan tahun baru dengan kegembiraan yang berlebihan. Ini bukan soal melarang orang bergembira, tetapi soal etika dan kepekaan nurani,” ujar Dr. Sani dalam keterangannya, Rabu (31/12/2025).
Ia menjelaskan, para korban bencana saat ini tengah berjuang memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari pangan, air bersih, hingga tempat tinggal yang layak. Dalam situasi tersebut, pesta kembang api dan perayaan meriah berpotensi menimbulkan kesan kontras yang tidak selaras dengan suasana duka dan kesulitan yang dialami para korban.
Selain aspek etika, Dr. Sani juga menyoroti soal prioritas penggunaan anggaran dan pengeluaran masyarakat. Biaya yang biasanya dihabiskan untuk membeli kembang api, menurutnya, akan jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk membantu upaya kemanusiaan dan pemulihan pascabencana.
“Sedikit kepedulian kita bisa sangat berarti bagi mereka. Dana yang dikeluarkan untuk hura-hura bisa dialokasikan untuk bantuan logistik, donasi, atau dukungan lainnya bagi korban bencana,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa pembakaran kembang api memiliki risiko keamanan dan dampak lingkungan, bahkan di daerah yang tidak terdampak bencana sekalipun. Risiko kebakaran, gangguan kesehatan, hingga pencemaran lingkungan menjadi hal yang perlu dipertimbangkan secara serius.
Meski demikian, Dr. Sani menegaskan bahwa tidak semua masyarakat yang merayakan tahun baru dengan kembang api dapat serta-merta dianggap tidak peduli. Ia memahami bahwa sebagian warga mungkin belum sepenuhnya menyadari skala keparahan bencana atau belum menemukan cara yang tepat untuk berkontribusi dalam aksi kemanusiaan.
“Banyak juga masyarakat yang memilih merayakan tahun baru dengan cara yang lebih sederhana dan penuh makna, seperti doa bersama, doa tolak bala, serta penggalangan bantuan untuk korban bencana. Ini adalah bentuk empati yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat, Dr. Sani secara khusus meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mengambil sikap dan memilih opsi perayaan tahun baru yang bernuansa keprihatinan. Ia menilai langkah tersebut penting sebagai simbol solidaritas dan kepedulian pemerintah daerah terhadap kondisi kebencanaan nasional.
“Pemerintah harus memberi contoh. Opsi prihatin adalah bentuk empati kolektif dan pesan moral bahwa kita hadir dan peduli terhadap penderitaan saudara-saudara kita,” pungkasnya.
Imbauan ini diharapkan dapat menjadi refleksi bersama, bahwa pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan kemeriahan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai momentum memperkuat nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian sosial.
